| Muslimah: Menuju Tangga Top Model di Eropa |
|
|
|
| Ditulis oleh Tieneke Ayuningrum |
| Jumat, 11 Juli 2008 00:58 |
|
Apa yang terbayang saat seorang muslimah hendak pindah ke suatu tempat atau melanjutkan study, di mana Muslim masih sebagai minoritas seperti di Jerman. Larut dalam budaya dan kebiasaan setempat, melepas jilbab dan lintasan pikiran cemas dan khawatir lainnya ketika membayangkan masyarakat yang belum menerima segala hal yang berbau Islam. Realitas Umat Islam di Jerman Saat ini Jerman memiliki penduduk sekitar 82 juta orang dan sebanyak 39 juta di antaranya berlatar belakang kaum pendatang. Jumlah penduduk muslim di Jerman berjumlah sekitar 3 juta dan jumlah ini akan semakin bertambah, mengingat kesadaran warga Jerman yang semakin tinggi terhadap kebenaran Islam. Menurut Zentralinstitut Islam-Archiv- Deutschland sebanyak 5000 warga Jerman memeluk Islam pada tahun 2006. Sumber lain menyebut angka 800 orang Jerman per tahun yang memeluk agama Islam. Meskipun jumlah warga muslim di Jerman semakin bertambah, tidak berarti bahwa mereka sudah terbebas dari segala macam bentuk kecurigaan dan tuduhan miring hingga perlakuan „istimewa“ dari berbagai pihak. Karena secara realitas memang kaum muslimin di Jerman masih memiliki banyak PR yang harus diselesaikan. Rendahnya tingkat pendidikan dan lemahnya pemahaman Islam para orang tua serta minimnya sarana pendidikan Islam bagi anak di Jerman menjadi faktor utama munculnya permasalahan di kalangan umat Islam. Masalah yang bermula dari kegagalan anak-anak dan remaja muslim di sekolah, yang berakibat kesulitan mengakses pendidikan yang lebih tinggi dan lapangan pekerjaan, yang berlanjut kepada tingginya tingkat pengangguran di kalangan muslim muda di Jerman. Lemahnya pendidikan Islam sejak di rumah semakin mendorong meningkatkan tingkat kenakalan dan kriminalitas sebagian anak-anak muslim. Berbeda dengan fenomena di Indonesia, di mana banyak sebagian muslim dari kalangan ekonomi lemah dan pendidikan rendah yang pindah ke agama lain, sebagian besar muslim baru Jerman (mualaf) berasal dari kalangan terdidik dan ekonomi menengah ke atas. Ada yang berasal dari kalangan dokter, pengacara, pengusaha, pelajar dan mahasiswa. Dengan meningkatnya kesadaran Islam di kalangan generasi muda dan bergabungnya muslim baru Jerman berpendidikan ini, seolah semakin membawa angin segar bagi perkembangan Islam di Jerman. Proyek pembangunan masjid dan Islamic Center menyebar di seluruh pelosok Jerman. Dialog antara Islam, Kristen dan Institusi Pemerintah semakin sering diselenggarakan. Di beberapa tempat mulai digagas pelajaran agama Islam di kurikulum SD dan pendirian TK dan SD Islam. Tantangan dan Peran Muslimah Meskipun perkembangan Islam di Jerman cukup menggembirakan, masih cukup banyak tantangan dan tanggung jawab dakwah, terutama dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, baik dikalangan muslim sendiri (internal problem) maupun dengan warga setempat (external problem). Image buruk terhadap muslim yang sudah terlanjur mendarah daging di kalangan warga Jerman, sangat sulit untuk diperbaiki dan perlu kerja keras dan waktu panjang. Tantangan ini semakin berat, ketika sebagian dari kalangan muslim sendiri yang sengaja atau tidak sengaja ikut memperburuk citra Islam di Barat. Almarhum Khurram Murad (Mantan Kepala Islamic Centre di UK) mengatakan bahwa Muslim yang datang dan tinggal di Eropa, baik untuk study, bekerja, menikah warga setempat atau alasan lain, bukanlah suatu hal yang kebetulan, tetapi adalah kehendak Alloh supaya masyarakat Eropa mendapat sentuhan nilai Islam yang indah. Seorang muslimah hendaknya mampu menjadi setitik cahaya yang mampu menerangi kegelapan nilai disekitarnya, baik dalam lingkungan kuliah, bekerja dan bertetangga. Seorang wanita tua pernah melakukan perjalanan dari Scotlandia (bagian utara Inggris) mendatangi sebuah Islamic Center yang terletak di Inggris bagian selatan untuk memeluk Islam, karena merasa penasaran dan kagum dengan sikap dan perilaku seorang muslimah tetangganya. Maria, seorang wanita muda berkebangsaan Italia, datang ke Jerman untuk melanjutkan study, merasa tersentuh dengan kemuliaan dan kesabaran seorang mahasiswi berjilbab dan akhirnya juga memeluk Islam. Meski dikucilkan oleh keluarga dan teman-teman lamanya, bertahun-tahun Maria teguh mempertahankan keimananan dan jilbab yang baru dia kenakan. Berkat kesabaran dan akhlaq karimah Maria terhadap orang tua, keluarganya pun menerima kembali Maria untuk pulang keItalia. Seorang muslimah dengan kepribadiannya yang unik, sebenarnya tanpa disadari mampu menjadi seorang model bagi masyarakat di sekitarnya, tanpa harus mengikuti kontes Idol. Khususnya muslimah Indonesia di Eropa, sesungguhnya memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh muslimah dari negara lain. Sifat alami yang lemah lembut, ramah, ceria dan murah senyum muslimah Indonesia ibarat sebuah mutiara atau komentar orang Jerman, ”Sonnenschein” (Cahaya Matahari) yang saat ini menjadi barang langka dalam kehidupan mereka. Seorang muslimah asal Indonesia bercerita, setiap kali pindah kota dan meninggalkan tetangga terdekat, mereka melepasnya dengan tangisan. Sebagai muslimah dengan jilbab sebagai identitas, ternyata bukan menjadi penghalang untuk menjalin keterikatan hati dengan masyarakat, yang sebelumnya punya pandangan buruk terhadap Islam. Sepasang suami isteri muslim dari Indonesia bercerita, melalui anak-anak, mereka menjalin komunikasi dan tali persahabatan dengan keluarga Jerman. Anak yang sholeh dan berprestasi di sekolah adalah aset utama dakwah, bahwa keluarga muslim mampu mencetak generasi yang terdidik dan berakhlak baik. Para guru Jerman berandai-andai, akan berbahagia sekiranya ada 20 anak sholeh berada dalam kelasnya. Para tetangga merasa senang dan sejuk melihat sikap anak-anak muslim yang dididik dengan baik. Alhamdulillah, sebagian besar muslimah Indonesia yang berada di Eropa merupakan golongan terpelajar dan beprestasi. Sebuah potensi besar yang belum tentu di miliki oleh muslimah dari negara lain. Dengan jilbab mereka akan mampu mengikis pandangan negatif umum yang beredar dalam masyarakat Jerman selama ini, bahwa wanita berjilbab sama dengan Putzfrau (tukang sapu). Karena memang sebagian besar yang berprofesi sebagai tukang sapu di kantor-kantor selama ini adalah para muslimah dari turki yang tidak sempat menikmati pendidikan tinggi atau yang berasal dari desa terpelosok di Turki. Jumlah mahasiswi berjilbab di berbagai universitas di Jerman dari tahun ke tahun semakin meningkat, yang terdiri dari muslimah asing dan muslimah jerman sendiri. Dari sebuah jajak pendapat, mereka ini memiliki tekat dan semangat yang lebih kuat serta cita-cita yang tinggi, seperti membangun karir atau berhasil dalam dunia kerja mereka kelak. Dalam studi yang lain terkuak, bahwa dibalik jilbab tersimpan jiwa yang besar dan luhur serta pandangan yang modern. Sesuatu yang bertentangan dengan pandangan orang Jerman selama ini, yang menganggap seorang muslimah berjilbab berada dalam kungkungan kaum pria dan terbelakang. Pernyataan Hayrunnisa Gul, isteri Presiden Turki Abdulla Gul, bahwa ”Jilbab hanya menutup kepala saya, bukan otak saya.” semakin menyadarkan publik di Eropa yang selama ini punya pandangan negatif terhadap muslimah. Peran muslimah terutama dalam masyarakat yang belum mengenal Islam sungguh sangat di nantikan. Berdasarkan hasil statistik, kebanyakan warga Eropa masuk Islamkarena interaksi mereka dengan muslim yang menampakan identitasnya, baik di sekolah, tempat kerja dan bertetangga. Mereka menunggu-nunggu kesempatan untuk dikenalkan kepada Islam. Daniel, seorang mahasiswa muslim Jerman, menyatakan dalam dialog dengan forum pengajian Indonesia, ”Seandainya kalian sejak dulu menunjukkan kepadaku Islam, tentu aku sudah sejak dulu menjadi seorang Muslim. Namun kalian malah mengikuti kebiasaan kami yang buruk.” Muslim Jerman yang lain, ”Saya sungguh heran dengan sikap sebagian dari kalian. Kalian sebagai muslim malah ingin bersikapkebarat-baratan, sedangkan kami merasakan kekeringan hidup.” Wahai Muslimahku, sudah saatnya kita memainkan peran global kita. Kita tapaki tangga menjadi seorang Model bagi masyarakat. Sungguh, mereka sangat merindukan kalian dengan kelembutan dan prestasi gemilang kalian. Oleh: Tieneke Ayuningrum Ketua Bidang Kewanitaan Pusat Informasi & Pelayanan PKS Jerman |
| LAST_UPDATED2 |
| Mari bergabung bersama PKS untuk mewujudkan Indonesia Baru yang lebih baik!
|


